Total Tayangan Laman

Senin, 24 Juni 2013

co-pas TWEET SANG MANTAN (@tweetsangmantan)

TweetSangMantan Kenapa selalu ada kata Maaf untukmu? Aku berbaring di atas kasur, melihat langit-langit kamar, lalu tiba-tiba bayangan itu selalu menghantui malamku. Sosok yang tak asing lagi bagi hidupku, bagi hatiku. Kenapa kamu selalu hadir di setiap malamku sih? Bukan hanya kamu yang menjadi bayang-bayang malamku, tetapi kenangan yang telah kita buat bersama-sama serta semua angan-angan dan janji itu… Ah lebih baik lupakan! Aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Aku tidak bisa selalu memikirkan masa yang sudah lalu itu. Aku harus berjalan ke depan, dan jangan menengok ke belakang lagi. Bisa! Aku pasti bisa! Tapi… Ahhh semua itu sangat sulit aku jalani untuk saat ini. Bukan aku tidak bisa, hanya aku belum bisa dan belum siap. Setengah perjalanan tanpamu aku lalui, memang terasa jika semua ini sangat berbeda. Dengan adanya kamu atau tanpa kamu pasti berbeda. Jangan pernah sekali-kali kamu datang ke kehidupanku lagi dan membuat luka yang baru! ucap batinku. Tetapi kamu boleh datang ke kehidupanku lagi, asalkan kamu mau mengembalikan kotak senyumku yang telah hilang dan jangan pernah membuat luka yang baru! harapku. Tidak di pungkiri, di putuskan atau di tinggal pergi oleh orang yang paling kita sayang itu rasanya seperti dunia ini akan berakhir. Padahal nyatanya tidak! Tidak sama sekali. Sebenarnya kegalauan atau kesedihan setelah putus yang berlarut-larut itu adalah keputusan yang aku ambil sendiri. Kenapa? Karena banyak juga kan yang setelah putus dia tidak sedih berlarut-larut. Sedangkan aku? Aku lebih memilih masih menangisinya dan mengingat semuanya dengan baik. Ingat loh, jangan sampai salah. Kebanyakan dari kita adalah yang menangisi orang yang tidak patut atau tidak layak di tangisi lagi. Coba deh, udah berapa banyak air mata yang aku keluarkan buat kamu? Dan apakah kamu layak aku tangisi? Untuk menjawab pertanyaan itu bukanlah hal yang gampang. Tidak bisa di kira-kira, tidak bisa di khayal-khayal, dan tidak bisa mengada-ada. Seminggu.. Dua minggu tanpamu aku sudah mulai terbiasa. Walau tidak munafik, sering kali aku masih memerhatikanmu, merindukanmu dan mengingin kamu kembali. Aku bukan perempuan yang bodoh tetapi hatiku selalu kembali padamu lagi dan lagi. Entahlah… Yang di sakiti beberapa kali oleh orang yang sama tetapi masih mau bertahan dan masih menyediakan kesempatan untuknya. Iya, itu aku. Tetapi jika kalian menganggapku bodoh? Silahkan, itu hak kalian. Tetapi menurutku, perempuan sepertiku ini jarang. Perempuan mana sih yang mau menunggu orang yang telah menyakitinya berkali-kali? Perempuan mana sih yang mau selalu bertahan walau dia telah di tinggalkan? Perempuan mana sih yang mau selalu memaafkan kamu meskipun dia sangat terluka? Perempuan mana sih yang mau berkorban apapun meskipun dia tahu kamu tidak akan pernah menyayanginya dengan amat sangat seperti rasa sayangnya padamu? Ketakutanmu sebenarnya sama denganku. Bukan hanya kamu saja yang takut kelak aku akan di miliki orang yang salah. Tetapi, aku juga takut kelak kamu akan mendapatkan perempuan yang tidak memberikan seutuhnya padamu. Aku tau sekarang kamu lah yang terbaik. Tetapi bukan tidak ada lagi yang lebih baik, karena semuanya soal waktu. Dan aku belum bisa di miliki oleh orang yang tepat dan bisa membahagiakanku lahir dan batin. Bukannya sebelum kita memiliki orang yang tepat, kita akan di berikan orang-orang yang salah dulu? Bukan salah, tetapi yang memang belum tepat dan aku akan belajar banyak dari orang-orang itu. Sepertinya, angin membawamu kembali padaku. Kamu datang membawa segudang penyesalan. Memang, ketika kita yang telah di usir dari hidup seseorang, dan ketika kita telah pergi, orang tersebut baru bisa merasakan bahwa kita sangatlah berarti untuk hidupnya. Oh iya, tidak semua orang pandai berkata jujur jika dia sedang menyesali sesuatu. Ketika dalam posisi seperti ini, sebenarnya aku bingung untuk harus bahagia atau bahkan… Ahhh aku terlalu takut untuk… Aku takut aku semakin tidak bisa melupakanmu. Sial! Usahaku kali ini sepertinya akan gagal lagi. Memang sih semakin kita ngotot untuk ingin melupakan, justru dia akan semakin melekat di otak. Dan kali ini, kamu benar-benar ada di dalam hari-hariku lagi. Semakin sulit saja untuk aku melihat ke depan. Tetapi aku tidak munafik, aku bahagia kamu kembali lagi untuk memperhatikanku, membuat senyum yang telah berminggu-minggu hilang begitu saja. Tapi sepertinya aku dan kamu belum atau bahkan tidak siap untuk bersatu lagi menjadi KITA. Jadi biarkanlah semuanya mengalir begitu saja. Karena status bukanlah segala-galanya. Untuk saat ini aku belum bisa menerima pria manapun untuk menggantikan kamu. Aku takut pria itu akan tambah menghancurkan hati ini bukan untuk membuat hatiku utuh lagi. Dengan keadaan luka yang masih basah seperti ini, aku masih mau memaafkanmu dan akan selalu memaafkanmu. Sekarang aku mau bertanya padamu, apakah kamu selalu memaafkanku? Jika iya, berarti aku tidak salah untuk memperjuangkanmu selama ini. Tetapi jika tidak, sepertinya aku harus “tidak menyesali” yang telah ku korbankan semuanya untukmu. Dan satu pertanyaan yang sampai kini belum ku temukan jawabannya; “Kenapa selalu ada kata Maaf untukmu?” # TSM tweetsangmantan

Senin, 17 Juni 2013

co-pas TWEET SANG MANTAN

TweetSangMantan Apakah masih ada aku di dalam diammu? Ini tentang aku dan kamu, yang bukan lagi menjadi KITA. Bukannya aku egois sehingga tidak mau memanggilnya KITA lagi, tetapi kisah dimana aku dan kamu menjadi KITA telah berakhir. Aku tidak menyalahkan kamu ataupun siapapun karena hubungan ini telah berakhir. Karena sekarang, aku percaya “Cinta akan tersimpan rapih pada tempatnya, dan cinta tidak bisa saling memaksa ataupun di paksa. Karena cinta soal keikhlasan yang tumbuh di dalam hati.” Bukankah semua orang tidak ada yang menginginkan perpisahan itu terjadi? Jika iya, aku salah satunya. Tetapi aku sadar satu hal; “Ketika pertemuan itu terjadi, kita harus siap-siap akan adanya perpisahan.” Apakah aku menginginkan aku dan kamu berpisah? Tentunya tidak. Semakin malam, aku semakin mengingat semuanya. Semua kejadian yang di sengaja maupun tidak. Semua obrolan panjang sampai obrolan pendek kita. Semua kenangan manis ataupun kenangan buruk. Semuanya telah tersusun rapi disini, di kepalaku. Aku masih ingat, ketika dari dulu aku sangat memuja dan mengagumimu dengan sangat. Aku masih ingat, ketika aku mencari semua informasi tentangmu. Aku masih ingat, ketika chat aku hanya kamu “baca” bahkan sering kali “langsung di hapus tanpa di baca terlebih dahulu”. Aku masih ingat, ketika aku sering mencuri-curi perhatianmu. Aku masih ingat, ketika kamu menganggapku teman biasa sedangkan aku tidak. Aku masih ingat, bagaimana suara jantungku ketika bertemu bahkan kita menciptakan obrolan, walau sesingkat apapun. Aku masih ingat, bagaimana rasanya mendengar bahwa kamu sudah memiliki pacar. Aku masih ingat, bagaimana rasanya saat melihat kamu dengan pacarmu itu. Aku juga masih ingat, ketika bahagianya aku mengetahui kamu putus dengan pacarmu lalu aku selalu berharap pacarmu selanjutnya itu aku. Bahkan aku masih ingat, ketika aku bermimpi ingin memilikimu. Dan aku masih ingat, ketika setengah mati aku ingin melupakanmu dan sampai sekarang memang aku selalu gagal untuk melakukan itu. Menyakitkan bukan? Memberi kekaguman, mendapatkan pengabaian. Itulah resiko menjadi secret admirer atau pengagum rahasia. Aku sadar, bahwa kamu tidak akan pernah tahu jika selama ini aku memang sangat mengagumimu. Tetapi seiring berjalannya waktu, setelah air mataku habis karena aku sering merindukan dan terlalu memikirkanmu, akhirnya Tuhan mengabulkan doaku walau satu persatu. Tuhan mengizinkan aku dan kamu menjadi dekat, bahkan lebih dari teman atau sahabat. Aku bertahan untukmu, meluangkan seluruh waktuku untuk menunggumu, meng’galau’kanmu, itu bukanlah waktu yang sebentar. Pada akhirnya, kata-kata yang selalu aku percayai sampai sekarang; “Sabar, akan indah pada waktunya” itu benar-benar terjadi kepadaku. Sekarang, statusku bukan lagi menjadi “pengagum rahasiamu” tetapi menjadi “pengisi kekosongan hari-harimu”. Proses ini bukanlah hal mudah dan menyenangkan. Aku harus melihat kamu berpacaran dengan beberapa wanita dulu, baru Tuhan mengizinkan kita untuk bersama. 1 bulan.. 2 bulan.. 3 bulan.. Pacaran yang sangat manis, walaupun setiap hari aku harus selalu bersabar menghadapi sifatmu yang cuek. Di bulan ke 4, 5, 6, 7, bahkan sampai bulan ke 8 pertengkaran mulai mengisi hari-hari kita. Entah karena saling egois, saling berbeda pendapat, dengan sifat kita yang gampang berubah mood juga sering menjadi penyebabnya. Bahkan karena aku yang memang curigaan dan gampang cemburu, sedangkan kamu memang cowok yang super cuek yang menjadikan hubungan ini berakhir. Berakhir? Iya, kita berpisah. Kita bukan lagi menjadi kita. Sekarang aku dan kamu, bukan lagi KITA. Aku mau bertanya padamu, apakah selama kita berpacaran kamu mencintaiku? Apakah kamu menyayangiku? Jika iya, sepertinya rasamu berbeda dengan rasa yang aku punya. Rasa yang dari dulu aku punya. Jika tidak, mengapa kebaikanku kamu balas dengan kebohongan? Apakah aku jahat terlebih dahulu kepadamu? Sehingga kamu menjahatiku seperti ini. Apakah aku salah jika aku sangat mencintaimu bahkan menyayangimu? Bukan hanya kamu yang aku sayang, tetapi keluargamu juga. Apakah aku salah? Tolong jawab. Apakah kurang pengorbananku selama ini? Bertahan seorang diri, menunggu seseorang. Dan itu kamu. Dalam debat, memang kamu ahlinya. Tetapi dalam luapan hati? Aku, aku yang selalu jago dalam hal ini. Karena apa? Karena aku hanya ingin selalu terbuka dan aku ingin kamu tahu rasa yang aku punya. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku… Banyak kata maaf dariku, untukmu. Banyak juga kata terimakasih yang ingin aku ucapkan kepadamu. Tetapi aku tidak bisa menyebutkan semuanya disini. Intinya, aku minta maaf banyak kesalahan yang telah aku perbuat kepadamu. Semua kesalahan yang bahkan tidak aku ingat semuanya. Dan aku sangat berterimakasih karena kamu sempat mewujudkan mimpiku yang ingin menjadi pacarmu. Terimakasih juga untuk kamu yang telah menciptakan kenangan indah dan buruk ini. Terimakasih juga untuk luka barunya. Terimakasih untuk pembelajarannya selama ini. Terimakasih pernah memulai, dan terimakasih telah mengakhiri. Terimakasih… Kamu… Kamu hanya 4 kata, tetapi bisa merubah hidupku. Hebat ya, kamu. Dalam diamku, aku masih sering mengucapkan namamu di dalam doa-doaku. Dalam diamku, aku masih sering memikirkanmu, merindukanmu, bahkan mengingat bagaimana kita dulu. Manis ya, kita dulu.. Dalam diamku juga, aku masih sangat menyayangimu dengan amat sangat. Tidak salah kan jika dalam diamku juga, aku masih mengharapkanmu kembali. Walau suatu saat nanti atau entah kapanpun itu. Sekarang giliranmu untuk menjawab, apakah masih ada aku di dalam diammu? :)))

Sabtu, 15 Juni 2013

ini apik

http://1cak.com/314295?fb_action_ids=148509292004644%2C148500472005526&fb_action_types=og.likes&fb_source=other_multiline&action_object_map={%22148509292004644%22%3A163469757166139%2C%22148500472005526%22%3A178215565678560}&action_type_map={%22148509292004644%22%3A%22og.likes%22%2C%22148500472005526%22%3A%22og.likes%22}&action_ref_map=[]

Jumat, 14 Juni 2013

co-pas TWEET SANG MANTAN

TweetSangMantan Apakah masih ada aku di dalam diammu? Ini tentang aku dan kamu, yang bukan lagi menjadi KITA. Bukannya aku egois sehingga tidak mau memanggilnya KITA lagi, tetapi kisah dimana aku dan kamu menjadi KITA telah berakhir. Aku tidak menyalahkan kamu ataupun siapapun karena hubungan ini telah berakhir. Karena sekarang, aku percaya “Cinta akan tersimpan rapih pada tempatnya, dan cinta tidak bisa saling memaksa ataupun di paksa. Karena cinta soal keikhlasan yang tumbuh di dalam hati.” Bukankah semua orang tidak ada yang menginginkan perpisahan itu terjadi? Jika iya, aku salah satunya. Tetapi aku sadar satu hal; “Ketika pertemuan itu terjadi, kita harus siap-siap akan adanya perpisahan.” Apakah aku menginginkan aku dan kamu berpisah? Tentunya tidak. Semakin malam, aku semakin mengingat semuanya. Semua kejadian yang di sengaja maupun tidak. Semua obrolan panjang sampai obrolan pendek kita. Semua kenangan manis ataupun kenangan buruk. Semuanya telah tersusun rapi disini, di kepalaku. Aku masih ingat, ketika dari dulu aku sangat memuja dan mengagumimu dengan sangat. Aku masih ingat, ketika aku mencari semua informasi tentangmu. Aku masih ingat, ketika chat aku hanya kamu “baca” bahkan sering kali “langsung di hapus tanpa di baca terlebih dahulu”. Aku masih ingat, ketika aku sering mencuri-curi perhatianmu. Aku masih ingat, ketika kamu menganggapku teman biasa sedangkan aku tidak. Aku masih ingat, bagaimana suara jantungku ketika bertemu bahkan kita menciptakan obrolan, walau sesingkat apapun. Aku masih ingat, bagaimana rasanya mendengar bahwa kamu sudah memiliki pacar. Aku masih ingat, bagaimana rasanya saat melihat kamu dengan pacarmu itu. Aku juga masih ingat, ketika bahagianya aku mengetahui kamu putus dengan pacarmu lalu aku selalu berharap pacarmu selanjutnya itu aku. Bahkan aku masih ingat, ketika aku bermimpi ingin memilikimu. Dan aku masih ingat, ketika setengah mati aku ingin melupakanmu dan sampai sekarang memang aku selalu gagal untuk melakukan itu. Menyakitkan bukan? Memberi kekaguman, mendapatkan pengabaian. Itulah resiko menjadi secret admirer atau pengagum rahasia. Aku sadar, bahwa kamu tidak akan pernah tahu jika selama ini aku memang sangat mengagumimu. Tetapi seiring berjalannya waktu, setelah air mataku habis karena aku sering merindukan dan terlalu memikirkanmu, akhirnya Tuhan mengabulkan doaku walau satu persatu. Tuhan mengizinkan aku dan kamu menjadi dekat, bahkan lebih dari teman atau sahabat. Aku bertahan untukmu, meluangkan seluruh waktuku untuk menunggumu, meng’galau’kanmu, itu bukanlah waktu yang sebentar. Pada akhirnya, kata-kata yang selalu aku percayai sampai sekarang; “Sabar, akan indah pada waktunya” itu benar-benar terjadi kepadaku. Sekarang, statusku bukan lagi menjadi “pengagum rahasiamu” tetapi menjadi “pengisi kekosongan hari-harimu”. Proses ini bukanlah hal mudah dan menyenangkan. Aku harus melihat kamu berpacaran dengan beberapa wanita dulu, baru Tuhan mengizinkan kita untuk bersama. 1 bulan.. 2 bulan.. 3 bulan.. Pacaran yang sangat manis, walaupun setiap hari aku harus selalu bersabar menghadapi sifatmu yang cuek. Di bulan ke 4, 5, 6, 7, bahkan sampai bulan ke 8 pertengkaran mulai mengisi hari-hari kita. Entah karena saling egois, saling berbeda pendapat, dengan sifat kita yang gampang berubah mood juga sering menjadi penyebabnya. Bahkan karena aku yang memang curigaan dan gampang cemburu, sedangkan kamu memang cowok yang super cuek yang menjadikan hubungan ini berakhir. Berakhir? Iya, kita berpisah. Kita bukan lagi menjadi kita. Sekarang aku dan kamu, bukan lagi KITA. Aku mau bertanya padamu, apakah selama kita berpacaran kamu mencintaiku? Apakah kamu menyayangiku? Jika iya, sepertinya rasamu berbeda dengan rasa yang aku punya. Rasa yang dari dulu aku punya. Jika tidak, mengapa kebaikanku kamu balas dengan kebohongan? Apakah aku jahat terlebih dahulu kepadamu? Sehingga kamu menjahatiku seperti ini. Apakah aku salah jika aku sangat mencintaimu bahkan menyayangimu? Bukan hanya kamu yang aku sayang, tetapi keluargamu juga. Apakah aku salah? Tolong jawab. Apakah kurang pengorbananku selama ini? Bertahan seorang diri, menunggu seseorang. Dan itu kamu. Dalam debat, memang kamu ahlinya. Tetapi dalam luapan hati? Aku, aku yang selalu jago dalam hal ini. Karena apa? Karena aku hanya ingin selalu terbuka dan aku ingin kamu tahu rasa yang aku punya. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku… Banyak kata maaf dariku, untukmu. Banyak juga kata terimakasih yang ingin aku ucapkan kepadamu. Tetapi aku tidak bisa menyebutkan semuanya disini. Intinya, aku minta maaf banyak kesalahan yang telah aku perbuat kepadamu. Semua kesalahan yang bahkan tidak aku ingat semuanya. Dan aku sangat berterimakasih karena kamu sempat mewujudkan mimpiku yang ingin menjadi pacarmu. Terimakasih juga untuk kamu yang telah menciptakan kenangan indah dan buruk ini. Terimakasih juga untuk luka barunya. Terimakasih untuk pembelajarannya selama ini. Terimakasih pernah memulai, dan terimakasih telah mengakhiri. Terimakasih… Kamu… Kamu hanya 4 kata, tetapi bisa merubah hidupku. Hebat ya, kamu. Dalam diamku, aku masih sering mengucapkan namamu di dalam doa-doaku. Dalam diamku, aku masih sering memikirkanmu, merindukanmu, bahkan mengingat bagaimana kita dulu. Manis ya, kita dulu.. Dalam diamku juga, aku masih sangat menyayangimu dengan amat sangat. Tidak salah kan jika dalam diamku juga, aku masih mengharapkanmu kembali. Walau suatu saat nanti atau entah kapanpun itu. Sekarang giliranmu untuk menjawab, apakah masih ada aku di dalam diammu? :)))

Rabu, 12 Juni 2013

inget nggak?

kamu inget nggak waktu kita duduk berdua dikursi teras depan rumahku terus kamu nyanyiin aku lagu fall for you terus lagunya nicky tirta terus lagunya adera yang lebih indah kamu inget nggak dulu kamu udah pernah sayang sama aku kamu inget nggak dulu kamu pernah bilang jangan siasiain aku kamu inget nggak dulu kita deket kamu inget nggak dulu kamu bilang nggak bakal phpin aku kamu inget nggak dulu waktu kita mutermuter naik motor berdua terus kamu pegang tangan aku kamu inget nggak sih semua itu??!! you're gone.. :(